Tentang Haruki

 "Kenapa sih, aing lemah banget kalau udah berhadapan sama cowok keren?!" Jeanne misuh-misuh sendiri di depan Nara. 

"Lemah gimana?" 

"Itu, kenapa ya aing mudah kagum sama cowok-cowok keren yang aing temuin..."

"Cowok-cowok keren itu siapa?" Tanya Nara.

"Ya.. banyak! Kamu tahu sendiri lah siapa."


Nara menghela napas. Kalau aku jadi dia, aku nggak akan mau, sih, berteman sama Jeanne. Karena dia itu nyusahin! Jalan pikirannya terlalu sulit untuk ditebak sampai-sampai semua topik pembicaraan yang keluar dari mulutnya pasti selalu hal-hal random. Dia tuh, selalu tiba-tiba ngomongin sesuatu yang bikin orang lain bingung, kenapa sih Jeanne tiba-tiba ngomongin ini? Gitu.

Tapi untungnya Jeanne punya teman dekat bernama Nara yang sabar banget nanggepin apapun yang keluar dari mulutnya Jeanne. Apapun yang Jeanne obrolin ke Nara pasti direspon dengan sangat baik, mau itu obrolan yang serius, bercanda, sampai gak jelas pun Nara tetep respon. Tolong kasih tepuk tangan dulu buat Nara, respect!


"Oke..."

"Tadi aing habis nonton pertandingan basket-nya kelas kita,"

"Iya."

"Sebenernya aing nggak ada tujuan khusus untuk itu. Aing cuman penasaran aja, dan aing kan nggak pernah nonton pertandingan basket sebelumnya, makannya aing datang,"

"Terus, terus?"

"Tapi aing tadi salfok sama Harukiiii! Nggak tahu kenapa."

"Cieeeee," 


Nara tersenyum dan mentertawakan Jeanne. Pokoknya respon Nara tuh ekspresif banget. Excited, ngeselin, ngeledek banget deh pokoknya.


"Bisa move on nih berarti?" Tanya Nara.

"Ihhhh, nggak gitu, Nar!"


Jeanne jadi enggan melanjutkan ceritanya. Selanjutnya ia malah bengong dan melamun, yang ada di pikirannya hanyalah Haruki.


Mungkin kamu penasaran tentang Haruki. Maka dari itu, aku akan menceritakannya.


Technically, Haruki adalah teman sekelas Jeanne. Nomor absen mereka berdekatan dan sama-sama absen ganjil. Urutannya adalah Haruki, Ilona, lalu Jeanne. Hal ini membuat Jeanne dan Haruki berada di sesi kelas yang sama pada saat masa-masa sekolah hybrid. Ya, waktu itu sekolah dibagi menjadi dua sesi untuk yang ber-absen ganjil dan ber-absen genap. Semester berikutnya, sistem pembagian sesi berubah menjadi setengah absen awal dan setengah absen akhir. Namun Jeanne dan Haruki tetap berada di sesi yang sama karena sama-sama absen awal.

Sebelumnya, ketika masih sekolah offline, Jeanne sudah menyadari keberadaan Haruki. Setiap hari pasti terdengar suara berat Haruki yang mengatakan "hadir" ketika guru sedang mengabsen. Pasti dia baru bangun, batin Jeanne kala itu. Menjelang siang, suara Haruki lebih sering lagi terdengar. Karena, ia sering sekali bertanya dan suka sekali mengutarakan pendapatnya. Jeanne pun sampai kesal.


"Ck, banyak omong banget, deh!"

"Kenapa pake nanya segala, sih? Jadi ngejelasin lagi kan gurunya."

"Kenapa dia nggak diem aja sih biar cepet selesai?!"


Tapi, Jeanne tetap respect pada Haruki karena dia pintar. Selain pintar secara akademis, Haruki juga punya skill public speaking yang sangat bagus. Ia bisa menjelaskan sesuatu secara efektif dan mudah dimengerti. Ia penuh percaya diri, dan tak segan-segan untuk meyampaikan pendapatnya ataupun mengkritisi sesuatu. Saat Jeanne menyadari hal itu, ia juga mengakui bahwa Haruki membuatnya terkagum-kagum.


Respect dan rasa kagumnya hilang ketika ia melihat sisi lain dari seorang Haruki. Jeanne kaget ketika melihatnya marah-marah di kelas. Memang sih, tidak sampai membanting pintu atau memukuli orang, tapi sama saja. Haruki mengucapkan sesuatu yang sangat menyakitkan dengan cara membentak. Double kill. Jeanne kira, seseorang seperti Haruki akan lebih dewasa ketika menyikapi masalah seperti itu.


Jeanne semakin dibuat kesal ketika ia satu kelompok dengan Haruki. Alasannya karena ia terlalu mendominasi dan tidak memberikan ruang untuk Jeanne menunjukkan kemampuannya. Haruki hanya fokus pada dirinya sendiri. Ia terlihat seperti ingin dirinya yang paling bersinar. Jeanne tidak suka itu. Kesimpulannya, mau sekeren apapun Haruki, sekarang Jeanne tetap tidak suka karena menurutnya Haruki tidak bisa mengendalikan ego.


Ah, dasar hormon-hormon remaja. Kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya, kan?

Comments